Bayangkan kamu berada di Jakarta dan harus meeting dengan seseorang di London. Sebuah worldtimer seharusnya membuat semuanya sederhana: lihat kota, lihat waktunya, selesai. Namun, ketika London memasuki Daylight Saving Time (DST) dan memajukan jam satu jam, sementara Jakarta tetap pada waktunya, muncul satu masalah kecil: tidak semua kota mengikuti aturan waktu yang sama.
MING mencoba menjawabnya melalui 57.05 Comet, sebuah worldtimer dengan sistem bezel yang memungkinkan waktu kota-kota yang menerapkan DST disesuaikan tanpa mengubah kota lainnya.
KETIKA WORLDTIMER BERTEMU DUNIA YANG TIDAK SERAGAM
Worldtimer dirancang untuk satu tujuan sederhana: memberikan gambaran waktu di berbagai belahan dunia dalam satu tampilan. Namun, dunia nyata tidak selalu sesederhana peta zona waktu. Daylight Saving Time adalah praktik memajukan jam biasanya satu jam selama periode tertentu dalam setahun, kemudian mengembalikannya ke standard time. Pada 2026, sekitar 70 negara memiliki setidaknya satu wilayah yang menerapkan DST, sementara banyak negara lainnya tidak menggunakannya sama sekali.
Bahkan dalam satu negara, aturannya bisa berbeda. Di Amerika Serikat, misalnya, sebagian besar wilayah menerapkan DST, sementara Hawaii dan sebagian besar Arizona tidak. Australia juga memiliki wilayah yang menerapkan DST dan wilayah lain yang tidak. Artinya, sebuah worldtimer mekanis konvensional bisa saja menampilkan waktu standar dengan benar, tetapi ketika beberapa kota maju satu jam, pengguna perlu melakukan penyesuaian sendiri.
MING memilih untuk menangani masalah tersebut langsung dari bezel.
SOLUSINYA ADA DI DUA BEZEL
Bagian paling menarik dari 57.05 Comet bukan sekadar tampilannya, tetapi cara sistem worldtimer-nya bekerja. MING membagi kota-kota pada watch menjadi dua kelompok. Inner bezel berisi kota atau lokasi yang tidak mengikuti DST dan tetap berada di posisinya. Sementara itu, kota-kota yang mengikuti DST ditempatkan pada outer bezel yang dapat diputar. Ketika DST aktif, cukup putar outer bezel satu klik atau 15 derajat. Hasilnya? Kota-kota yang mengikuti DST akan bergeser satu jam ke depan, sementara kota-kota yang tidak mengikuti DST tetap berada di posisi semula. Tidak perlu mengubah keseluruhan sistem worldtimer. Tidak perlu menghitung ulang satu per satu. Cukup satu klik.
MEKANISME KECIL DENGAN IDE YANG CUKUP BESAR
MING membuat mekanisme tersebut tetap terasa seperti bagian dari sebuah jam mekanis, bukan sekadar fungsi tambahan. Outer bezel memiliki mekanisme pengunci menggunakan spring-loaded ball dan recesses sehingga tersedia posisi yang jelas untuk standard time maupun DST. Ada pula sebuah indikator kecil di antara posisi sekitar pukul 8 dan 9. Ketika DST aktif, indikator “DST ON” berubah menjadi merah dan menggunakan lume sehingga statusnya tetap dapat dibaca dalam kondisi gelap. Dengan demikian, pengguna tidak hanya memutar bezel, tetapi juga mendapatkan konfirmasi visual bahwa mode DST sedang aktif. MING menyebut sistem ini sebagai patent-pending.
DIAL YANG TERLIHAT BERUBAH
Di bagian tengah terdapat dial biru multilayer dengan struktur raster yang saling bertumpuk. MING menyebut efek visual ini sebagai “Comet Tail.” Ketika lapisan-lapisan tersebut bergerak relatif satu sama lain seiring berjalannya waktu, pola visual pada dial ikut berubah. Hasilnya adalah tampilan yang tidak terasa benar-benar statis ketika dilihat dari waktu ke waktu. Di sekelilingnya terdapat rotating 24-hour worldtime ring yang menggunakan kombinasi warna dan lume untuk membedakan waktu siang dan malam. Pada kondisi gelap, bagian siang menggunakan emisi biru, sementara bagian malam menggunakan emisi oranye. Indikator DST juga mendapatkan red-emission Super-LumiNova X1. Jadi bahkan ketika lampu mati, sistem waktunya masih memiliki bahasa visualnya sendiri.
TERINSPIRASI DARI ERA PERJALANAN DUNIA
Nama “Comet” bukan dipilih secara kebetulan. MING mengambil inspirasi dari de Havilland Comet, pesawat yang dikenal sebagai pesawat jet komersial pertama yang memasuki layanan dan membantu membuka era baru perjalanan udara. Hubungannya dengan worldtimer terasa cukup masuk akal. Worldtimer lahir dari kebutuhan manusia yang semakin sering bergerak melintasi negara dan zona waktu. Pesawat jet kemudian membuat perjalanan lintas benua semakin cepat. Keduanya berbicara tentang hal yang sama: dunia yang semakin terhubung.
MING juga mengaitkan 57.05 dengan sejarah worldtimer, termasuk perkembangan sistem worldtime yang dikembangkan oleh pembuat jam asal Geneva, Louis Cottier, pada era 1930-an.
UNTUK SIAPA WORLDTIMER SEPERTI INI?
Secara fungsi, konsep ini paling mudah dipahami oleh mereka yang sering berurusan dengan lebih dari satu zona waktu. Traveler internasional. Pekerja yang berkomunikasi dengan kantor atau klien di negara lain. Atau sekadar watch enthusiast yang menikmati bagaimana sebuah masalah sehari-hari diterjemahkan menjadi mekanisme mekanis. Menariknya, Indonesia sendiri tidak menerapkan DST pada 2026. Jadi bagi pengguna di Indonesia, fungsi tersebut bukan sesuatu yang akan digunakan setiap beberapa bulan seperti di Inggris atau sebagian wilayah Amerika Serikat.
A SMALL PROBLEM, A MECHANICAL ANSWER
MING memproduksi 57.05 Comet sebanyak 200 pieces. Pada akhirnya, MING 57.05 Comet bukan hanya tentang DST. Yang menarik adalah cara sebuah brand independen melihat masalah kecil yang selama ini diterima begitu saja dalam desain worldtimer, kemudian mencoba menyelesaikannya secara mekanis. Satu jam perbedaan mungkin terdengar sepele. Tetapi bagi sebuah jam tangan yang dirancang untuk membaca waktu di seluruh dunia, satu jam bisa menjadi detail yang cukup penting. Dan MING memilih untuk tidak menyembunyikan masalah tersebut. Mereka menaruh solusinya tepat di tempat yang bisa kita lihat dan sentuh: di bezel.
Temukan berbagai koleksi jam tangan original dan ikuti lebih banyak cerita menarik seputar dunia jam tangan bersama RADATIME.
*Radiate Moments In Time*

